Thursday, January 6, 2011

Manfaat Menulis

Hasil sebuah penelitian di Amerika yang dilakukan oleh seorang Psikolog yaitu Dr.Pennebaker menemukan berbagai manfaat menulis sebagi berikut :

Manfaat menulis :
1.Menulis menjernihkan pikiran.
Saat kita mengalami masalah yang berat dan rumit,menuliskan semua masalah kita ternyata berdampak positif untuk menjernihkan pikiran kita sehingga akan lebih memudahkan dalam menyelesaikan masalah.

2.Menulis mengatasi trauma.
Dengan menuliskan trauma yang pernah kita alami,kita akan lebih mudah mengelola trauma kita sehingga kita bisa mengatasai trauma tersebut.Mereka yang tidak menuliskan traumanya lebih rentan dan tidak sembuh dari trauma tersebut.Jadi agan-agan kalo ada trauma atau phobia dengan menulis trauma tersebut akan memudahkan kita untuk sembuh. 

3.Menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi.
Belajar dengan menulis akan membuat ingatan kita jauh lebih tajam.Seperti pepatah "ikatlah ilmu dengan menulis",menulis membuat sayarf otak kita lebih aktif sehingga kita bisa lebih mengingat pelajaran yang kita pelajari.Bandingkan dengan belajar yang hanya membaca maka kita akan mudah terlupa.

4.Menulis membantu memecahkan masalah.
Menulis masalah yang kita hadapi akan membuat kita fokus terhadap masalah itu daripada hanya dengan memikirkannya.Memikirkan masalah saja akan membuat pikiran dan otak kita kemana-mana.Dan ini yang membuat kita merasa lebih tertekan.Dengan demikian kita juga akan dengan lebih mudah mencari solusinya.

5.Menulis membantu ketika kita harus menulis.
Tugas disekolah ataupun kuliah memaksa kita harus menulis.Mengapa skripsi begitu berat?karena kita tidak terbiasa menulis.Kita bisa berpikir dan berbicara tetapi menulis adalah ketrampilan yang harus dipelajari.Dengan terbiasa menulis maka disaat kita harus menulis seperti mengerjakan tugas atau skripsi kita akan lebih mudah melakukannya.


Manfaat menulis yang lain :

Pertama, tentu saja orang yang rajin menulis akan semakin canggih dalam mentransfer gagasan ke dalam bentuk simbol-simbol. Semakin canggih artinya semakin mudah, semakin cepat, semakin efisien dan semakin akurat. Memang setiap orang yang bisa membaca pasti bisa menulis. Namun tulisan orang yang jarang membuat karangan dengan tulisan orang yang terbiasa menulis memiliki perbedaan. Perbedaan ini bukan dalam konteks kerapian atau banyak sedikitnya kesalahan ketik. Namun lebih pada kelugasan bahasa.

Orang yang sudah terbiasa menulis bisa mengontrol distribusi gagasan menurut jumlah kata/kalimat yang digunakan. Jika ia diminta membuat tulisan pendek, semua gagasan bisa dituangkan secara efektif. Ketika ia diminta membuat tulisan panjang, maka kesenjangan bobot makna antara satu kalimat/paragraf dengan kalimat/paragraf lain relatif sama. Berbeda dengan penulis pemula. Jika diminta membuat tulisan panjang, penulis pemula akan membuat kalimat padat makna pada satu bagian dan kalimat bertele-tele pada bagian lain.

Kedua, dengan menulis kita diajak untuk berpikir lebih runtut dan logis. Orang memang bisa membuat tulisan yang bolak-balik tidak karuan. Namun tulisan tersebut tidak akan laku dibaca. Membaca satu dua paragraf saja orang lain sudah pusing. Orang yang terbiasa menulis akan mampu menuangkan gagasannya secara lebih teratur. Dalam tulisan disebutkan dari mana mau ke mana. Misalnya dari A mau ke B. Apakah bisa langsung? Tidak. Mengapa? Disebutkan alasannya. Lalu bagaimana solusinya. Solusinya dari A ke C dulu, baru ke B. Mengapa harus C yang dipilih. Dan seterusnya. Semuanya direncanakan dengan runtut dan logis.


Ketiga, orang yang terbiasa menulis akan lebih menyukai cara sederhana, supaya pembacanya mudah memahami. Menurut saya, orang yang pintar menulis itu bukanlah orang yang memiliki perbendaharaan kata yang luar biasa, yang mampu menggunakan istilah-istilah super canggih. Justru orang-orang seperti itu sebenarnya tidak bisa menulis. Istilah-sitilah canggih itu digunakan untuk menutupi kebodohannya. Orang yang pintar menulis adalah orang yang bisa membahas tema-tema super pelik dengan gaya penyajian yang bisa dipahami anak yang sedang belajar membaca. Seorang ekonom saya nilai pintar menulis jika ia bisa menjelaskan hubungan topik-topik ekonomi makro dengan harga beras dan sayuran di Pasar Bringharjo Yogyakarta atau menghubungkannya dengan nasib para buruh kasar.

Keempat, dengan menulis kita diajak untuk menggali lebih dalam ilmu kita. Saya pernah membuat tulisan mengenai philantrophis. Apa artinya philantrophis? Nah disitulah saya mulai belajar. Apa maknanya, apa cirinya, mengapa mereka menjadi philantrophis, siapa saja yang disebut ekstreem philantrophis. Dengan menulis mengenai philantrophis, saya dikenalkan dengan dunia kedermawanan.

Kelima, dengan menulis kita diajak untuk mengamati sesuatu secara lebih luas. Akhir Desember 2010 ini kita mendengar ada banyak cuaca ekstrim, baik di Indonesia maupun di Eropa dan Amerika. Pertanyaannya adalah apakah kondisi di Indonesia dan di Eropa dan Amerika ini saling berhubungan. Mengapa ini terjadi, padahal tahun-tahun yang lalu tidak separah tahun ini. Apakah ada hubungannya dengan pemanasan global. Dan seterusnya.

Keenam, dengan menulis kita diajak untuk menggali makna dari sebuah peristiwa. Jika sebuah peristiwa buruk terjadi, kita diajak untuk mencari penyebabnya. Dari penyebab yang satu akan mengarah pada penyebab lainnya. Sampai akhirnya kita diajak untuk menemukan penyebab yang paling mendasar dari semua penyebab yang ada. Dengan menemukan penyebab yang paling mendasar ini kita akan mengetahui persoalan secara menyeluruh.


Dari keenam manfaat ini kita bisa menemukan satu manfaat besar dari kegiatan menulis, yaitu dengan menulis otak kita terus diasah. Diasah dalam hal kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa disekitar kita. Diasah dalam hal kejelian melihat sebuah peristiwa yang mungkin biasa terjadi. Diasah untuk mampu berpikir logis, menemukan hubungan sebab dan akibat. Diasah untuk mampu melihat pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa sehari-hari.
Hasil sebuah penelitian di Amerika yang dilakukan oleh seorang Psikolog yaitu Dr.Pennebaker menemukan berbagai manfaat menulis sebagi berikut :

Manfaat menulis :
1.Menulis menjernihkan pikiran.
Saat kita mengalami masalah yang berat dan rumit,menuliskan semua masalah kita ternyata berdampak positif untuk menjernihkan pikiran kita sehingga akan lebih memudahkan dalam menyelesaikan masalah.

2.Menulis mengatasi trauma.
Dengan menuliskan trauma yang pernah kita alami,kita akan lebih mudah mengelola trauma kita sehingga kita bisa mengatasai trauma tersebut.Mereka yang tidak menuliskan traumanya lebih rentan dan tidak sembuh dari trauma tersebut.Jadi agan-agan kalo ada trauma atau phobia dengan menulis trauma tersebut akan memudahkan kita untuk sembuh. 

3.Menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi.
Belajar dengan menulis akan membuat ingatan kita jauh lebih tajam.Seperti pepatah "ikatlah ilmu dengan menulis",menulis membuat sayarf otak kita lebih aktif sehingga kita bisa lebih mengingat pelajaran yang kita pelajari.Bandingkan dengan belajar yang hanya membaca maka kita akan mudah terlupa.

4.Menulis membantu memecahkan masalah.
Menulis masalah yang kita hadapi akan membuat kita fokus terhadap masalah itu daripada hanya dengan memikirkannya.Memikirkan masalah saja akan membuat pikiran dan otak kita kemana-mana.Dan ini yang membuat kita merasa lebih tertekan.Dengan demikian kita juga akan dengan lebih mudah mencari solusinya.

5.Menulis membantu ketika kita harus menulis.
Tugas disekolah ataupun kuliah memaksa kita harus menulis.Mengapa skripsi begitu berat?karena kita tidak terbiasa menulis.Kita bisa berpikir dan berbicara tetapi menulis adalah ketrampilan yang harus dipelajari.Dengan terbiasa menulis maka disaat kita harus menulis seperti mengerjakan tugas atau skripsi kita akan lebih mudah melakukannya.


Manfaat menulis yang lain :

Pertama, tentu saja orang yang rajin menulis akan semakin canggih dalam mentransfer gagasan ke dalam bentuk simbol-simbol. Semakin canggih artinya semakin mudah, semakin cepat, semakin efisien dan semakin akurat. Memang setiap orang yang bisa membaca pasti bisa menulis. Namun tulisan orang yang jarang membuat karangan dengan tulisan orang yang terbiasa menulis memiliki perbedaan. Perbedaan ini bukan dalam konteks kerapian atau banyak sedikitnya kesalahan ketik. Namun lebih pada kelugasan bahasa.

Orang yang sudah terbiasa menulis bisa mengontrol distribusi gagasan menurut jumlah kata/kalimat yang digunakan. Jika ia diminta membuat tulisan pendek, semua gagasan bisa dituangkan secara efektif. Ketika ia diminta membuat tulisan panjang, maka kesenjangan bobot makna antara satu kalimat/paragraf dengan kalimat/paragraf lain relatif sama. Berbeda dengan penulis pemula. Jika diminta membuat tulisan panjang, penulis pemula akan membuat kalimat padat makna pada satu bagian dan kalimat bertele-tele pada bagian lain.

Kedua, dengan menulis kita diajak untuk berpikir lebih runtut dan logis. Orang memang bisa membuat tulisan yang bolak-balik tidak karuan. Namun tulisan tersebut tidak akan laku dibaca. Membaca satu dua paragraf saja orang lain sudah pusing. Orang yang terbiasa menulis akan mampu menuangkan gagasannya secara lebih teratur. Dalam tulisan disebutkan dari mana mau ke mana. Misalnya dari A mau ke B. Apakah bisa langsung? Tidak. Mengapa? Disebutkan alasannya. Lalu bagaimana solusinya. Solusinya dari A ke C dulu, baru ke B. Mengapa harus C yang dipilih. Dan seterusnya. Semuanya direncanakan dengan runtut dan logis.


Ketiga, orang yang terbiasa menulis akan lebih menyukai cara sederhana, supaya pembacanya mudah memahami. Menurut saya, orang yang pintar menulis itu bukanlah orang yang memiliki perbendaharaan kata yang luar biasa, yang mampu menggunakan istilah-istilah super canggih. Justru orang-orang seperti itu sebenarnya tidak bisa menulis. Istilah-sitilah canggih itu digunakan untuk menutupi kebodohannya. Orang yang pintar menulis adalah orang yang bisa membahas tema-tema super pelik dengan gaya penyajian yang bisa dipahami anak yang sedang belajar membaca. Seorang ekonom saya nilai pintar menulis jika ia bisa menjelaskan hubungan topik-topik ekonomi makro dengan harga beras dan sayuran di Pasar Bringharjo Yogyakarta atau menghubungkannya dengan nasib para buruh kasar.

Keempat, dengan menulis kita diajak untuk menggali lebih dalam ilmu kita. Saya pernah membuat tulisan mengenai philantrophis. Apa artinya philantrophis? Nah disitulah saya mulai belajar. Apa maknanya, apa cirinya, mengapa mereka menjadi philantrophis, siapa saja yang disebut ekstreem philantrophis. Dengan menulis mengenai philantrophis, saya dikenalkan dengan dunia kedermawanan.

Kelima, dengan menulis kita diajak untuk mengamati sesuatu secara lebih luas. Akhir Desember 2010 ini kita mendengar ada banyak cuaca ekstrim, baik di Indonesia maupun di Eropa dan Amerika. Pertanyaannya adalah apakah kondisi di Indonesia dan di Eropa dan Amerika ini saling berhubungan. Mengapa ini terjadi, padahal tahun-tahun yang lalu tidak separah tahun ini. Apakah ada hubungannya dengan pemanasan global. Dan seterusnya.

Keenam, dengan menulis kita diajak untuk menggali makna dari sebuah peristiwa. Jika sebuah peristiwa buruk terjadi, kita diajak untuk mencari penyebabnya. Dari penyebab yang satu akan mengarah pada penyebab lainnya. Sampai akhirnya kita diajak untuk menemukan penyebab yang paling mendasar dari semua penyebab yang ada. Dengan menemukan penyebab yang paling mendasar ini kita akan mengetahui persoalan secara menyeluruh.


Dari keenam manfaat ini kita bisa menemukan satu manfaat besar dari kegiatan menulis, yaitu dengan menulis otak kita terus diasah. Diasah dalam hal kepekaan terhadap peristiwa-peristiwa disekitar kita. Diasah dalam hal kejelian melihat sebuah peristiwa yang mungkin biasa terjadi. Diasah untuk mampu berpikir logis, menemukan hubungan sebab dan akibat. Diasah untuk mampu melihat pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa sehari-hari.

Related Posts by Categories



Lettori fissi